Jodoh

 Ringan saat diucapkan, namun begitu terasa bebannya.

Saya menikah diusia muda, karena cinta dan pertimbangan. Naif sekali saya waktu itu. Tapi, anehnya kami menjalani kehidupan keluarga dengan bahagia. Cobaan kita hadapi, komunikasi kita terapkan dengan belajar seiring dengan bertambahnya usia pernikahan, lalu ketika cinta mulai menjadi rasa nyaman... Allah lah yang menjadi patokan kita untuk bersama.

Berprinsip ibadah untuk membangun keluarga, membesarkan anak sesuai sunnah rasul. Sisanya, menjalani semua dengan positif.

7 tahun usia pernikahan kami, dan saya bahagia. Saya tidak menyesal menikah diusia muda, saya tidak menyesal memiliki anak setelah 1 tahun pernikahan. Bahkan waktu itu, saya ingat betul keuangan keluarga kecil kami belum mampu untuk menghidupi satu mulut lagi dengan kata nyaman. Akan tetapi, atas ijin Allah dan segala usaha, memang ada saja rejeki untuk anak.

Saya tidak mengajarkan anda untuk menikah muda tanpa bekal seperti saya. Hanya berbekal naif, kepolosan dan cinta, percayalah hal itu tidak cukup untuk berbagai drama keluarga.

Keluarga kami bahagia karena kami berusaha berdua, duduk berdua dikala masa sulit, berkomunikasi dengan mengesampingkan emosi ketika ada godaan, memilih pilihan sulit dengan menangis dalam sholat. Hal-hal yang kami lewati itu, menumbuhkan cinta yang lain. Dari awalnya dua sejoli yang menggebu-gebu, kini menjadi dua orang awam yang sama-sama belajar untuk tidak egois. Untuk menjadi dua orang menempatkan segala sesuatunya ditengah agar rumah tangga ini tidak sampai tercerai berai.

Gampang bukan ketika dituliskan?

Ditahun ke lima, kami dikaruniai anak kedua. Dengan berbagai proses program hamil dari dokter dan alternatif. Bahagia rasanya saat anak ke dua kami dinyatakan berusia 12 minggu dalam pemeriksaan USG. Berdua kami menjalani minggu demi minggu pemeriksaan kehamilan rutin di rumah sakit. Sampai di usia ke 20 minggu, janin saya dinyatakan dokter tidak berkembang, dan minggu ke 22 kantong amnion saya kosong. Dan dilakukanlah tidakan kuretase.

Berdua kami menangis karena kehilangan anak yang sangat diharapkan hadir. Meratap, menyesal kenapa dia harus pergi ketika kita berdua begitu sayang.

Dengan harapan dan asa yang tersisa, kami melepaskan program hamil itu. Saya dan suami masih trauma dan terpukul akan kehilangan tersebut. Disitulah saya berpikir, mungkin anak saya kemarin belum berjodoh untuk dipertemukan pada saya didunia. Mungkin kita berjodoh kelak saat saya berada pada alam yang sama dengannya.

Ditahun ke tujuh, kami dikaruniai anak yang tak disangka-sangka akan datang. Namun, dibulan ke 4 kehamilan... suami saya meninggal.

Tahun itu, anak-anak saya menjadi yatim dengan instan. Saya menjadi janda dan ibu dari satu orang anak laki-laki dan satu perempuan yang tengah saya kandung.

Tidak ada yang menyangka jodoh kita sesingkat itu. Kisah yang kita bina hanya bertahan 7 tahun. Maka dari itu, saya berani mengatakan saya tidak pernah menyesal menikah muda, saya tidak pernah menyesal menikahi suami saya hanya atas dasar cinta, dan saya tidak akan pernah sekalipun menyesali pernikahan saya.

Jodoh itu aneh, suami saya datang dengan segudang janji cinta dan hidup bersama. Dan saya yang polos menerima cintanya dengan tulus. Pernikahan menjadi jalan kami untuk mengikat cinta dan janji suci.

Pernikahan ini menjadi ladang belajar untuk kami, menguatkan bahwa kami adalah jodoh pilihan Tuhan. Kesulitan ekonomi, godaan wanita lain dan godaan iming-iming kehidupan mewah sudah khatam.. tidak mulus memang, tapi kami berhasil dan keluar dari lingkaran itu dengan bahagia.

Jodoh itu memang janji Tuhan untuk kita, agar kita terus belajar, bersabar dan ikhlas menjadi hambanya.

Dari 7 tahun pernikahan itu, dengan banyaknya perjuangan, kebersamaan, air mata dan cinta. Saya masih mencintai suami saya sebagaimana mestinya. Mendoakan agar dia baik-baik saja disana, berharap kita akan bertemu kelak saat waktu yang ditetapkan.

Saya ingat betul, sebulan sebelum meninggal suami saya pernah mengajak ngobrol sebelum kita tidur malam itu. Saat itu saya tengah mengandung anak yang terakhir, dan kalau tidur tidak mau memakai bedcover karena badan selalu terasa panas. Dia tidur disamping saya sambil memeluk dari belakang, berkata dengan berbisik. "Ma, kalo papa meninggal. Mama nikah lagi apa enggak?"

Saya tidak merasakan firasat apapun waktu itu, saya malah tanggapi dengan guyon. Saya lupa menanggapi apa waktu itu.

Tapi, saya ingat betul suami saya ngambek karena tidak saya tanggapi serius pertanyaannya. Dan dia bilang, "ih, pasti mama nikah lagi. Pasti, mama kan nggak secinta itu sama papa."

Saya tidak menyangka akan ditinggal setelah satu bulan dia membicarakan hal itu. Hal yang tidak pernah saya tanggapi dengan sungguh-sungguh karena cinta saya memang hanya untuknya seorang. Bahkan dengan pangkatnya sebagai seorang CTO disuatu perusahaan besar, proyek-proyek web developer raksasa yang tengah dia garap bersama timnya. Logikanya, bukannya saya yang harus cemburu kalau dia bersama wanita lain?

Cinta saya terhadap suami saya itu sudah mutlak saat kita pertama kali bertemu, dan diteruskan dengan mengikat janji suci. Bahkan ketika ada wanita lain yang hampir membuat suami saya goyah... saya tetap mencintainya. Sampai saat dia berbicara akan kesalahan2nya, mengakui semua perbuatannya. Saya menelan pil pahit bahwa suami saya selingkuh.

Sakit sekali.

Bahkan ada masa dimana, cinta menggebu-gebu itu mulai pudar. Sedikit-demi sedikit harapan akan cinta sejati itu redup. Saya memaafkan. Walaupun rasanya tidak rela.

Kepercayaan saya telah ternodai.

Cinta saya tidak diamini dengan amanah.

Saya merasa dihianati.

Saya marah.

Saya marah dengan diam.

Saya marah dalam doa saya pada  Tuhan.

Bahkan saya marah dalam sujud saya.

Tapi waktu menyembuhkan. Betul.

Kepercayaan mulai kami bangun dengan pengertian. Empati. Saling menghargai.

Akan tetapi...

Proses menuju mencintai kembali itu akan berjalan nanti (lama...) kalau saya sudah merasa sembuh. Mungkin iya dan tidak (itu kata hati saya waktu itu, dan mungkin suami saya membaca dari perilaku saya yang sedikit berubah). Kenyataannya, dia memang berusaha sangat keras untuk membuktikan, bahwa rumah tangga yang kita bangun harus utuh. Harus berpondasi yang kuat atas nama ibadah dan cinta (betapa ironis prinsipnya saat itu). Tidakkah dia yang menghianati cinta saya? Bukannya dia tidak bisa menjaga amanah sebagai seorang suami?

Kemarahan itu lama-lama mengendap menjadi kepasrahan. Menerima. Karena saya lelah. Dan tercetuslah kata terserah, karena saya merasa sudah berusaha menjadi ibu bagi anak2. Istri bagi suami dan perawat dadakan ketika mereka sakit. Saya akan menjalankan tugas saya seperti itu, sisanya terserah.

Titik itulah titik terendah dalam rumah tangga kami. Titik ketika salah satu sudah tidak saling peduli (yakni saya). Titik ketika saya berada dalam satu rumah tapi terasa seperti neraka.

Lambat laun, saya merenung. Apakah ini rumah tangga yang saya inginkan? Apakah berpisah akan menyelesaikan semuanya? Apakah saya seegois itu? Apakah tidak ada yang mengerti perasaan saya? Kenapa saya merasa sendiri dan dipojokkan?

Otak saya berisi hal-hal toksik. Meracuni saya dari berbagai sudut agar mengakhiri semuanya.

Akhirnya kami dipertemukan oleh kompromi, cinta belum menampakkan warna merah jambunya waktu itu. Kompromi ini adalah proses menerima, ikhlas.

Suami saya pun mulai berubah.

Dia, dengan berbagai kekurangan dan kesalahannya telah menjadi suami yang diharapkan tiap istri. Suami yang saya harapkan. Papa yang diidamkan oleh anak-anak. Kepala keluarga yang selalu ditunggu kedatangannya sepulang kerja atau meeting. Seorang laki-laki yang membuat bangga keluarganya.

Waktu memberi kami pilihan, healing proses itu memang ada. Seiring waktu, cinta itu mengalahkan semua. Semu merah jambu kembali muncul dan menghangatkan seluruh keluarga.

Bisa saja waktu itu saya memilih meninggalkan suami. Karena saya juga mempunyai pekerjaan, walaupun tidak sesukses suami dan bayarannya pun tidak seberapa. Tapi saya yakin bisa menghidupi anak saya. Saya bukan gambaran wanita lemah yang tidak berpendapat, yang tidak menyuarakan kekesalan hati saya.

Hanya saja, cara saya mungkin berbeda dengan kebanyakan. Saya menangis dalam doa2 saja, saya meratap dalam tiap sujud, saya marah dengan diam. Dan pada akhirnya saya pasrah, menerima dan kembali mencintai.

Proses itu yang membuat cinta saya semakin kuat, proses itu yang membuat saya percaya bahwa Tuhan memberikan jodoh dengan tidak bercanda. Dia mengujinya, menempanya, menyakitinya dengan cara yang tidak disangka. Tapi, kata jodoh itu begitu sakral sehingga kita harus melewatinya dengan banyak luka.

Sekarang, walaupun suami saya sudah dijemput terlebih dahulu. Cinta itu tetap melekat erat. Karena kita berdua membuktikan, bahwa selama ini dengan berbagai jenis tempaan, kita tetap bersama. Menangis bersama. Meratap bersama. Menyesal bersama. Tertawa bersama. Dan nanti, kita akan berkumpul bersama. Inshaallah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Decluttering

Bongkar Lemari : Minimalism

Sadar Diri